Suaragenerasikita.com//Gorontalo Utara memiliki garis pantai kurang lebih 316 kilometer, terpanjang di Provinsi Gorontalo. Lautnya luas, komoditasnya beragam, dan sebagian besar kebutuhan pasar ikan sebenarnya tersedia.

 

Tetapi pertanyaan besarnya, sudahkah potensi sebesar itu benar-benar menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Gorontalo Utara?

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara, Dr. Faisal Piu, SE, MM, ditemui di kantornya (Senin,10/08/2026) mengatakan potensi tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal agar Gorontalo Utara mampu menjadi produsen hasil perikanan tangkap maupun budidaya terbesar di Gorontalo.

“Kondisi tersebut akan kami manfaatkan semaksimal mungkin menjadi produsen hasil perikanan tangkap maupun budidaya terbesar di Gorontalo,” ujar Faisal Piu.

 

Pernyataan itu tentu bukan sekadar target pembangunan. Sebab, dengan garis pantai ±316 kilometer, Gorontalo Utara memiliki modal alam yang sangat besar untuk membangun ekonomi biru.

Namun, modal alam saja tidak cukup.

 

Laut yang kaya tidak otomatis membuat nelayan sejahtera. Ikan yang melimpah tidak otomatis meningkatkan PAD. Dan garis pantai yang panjang tidak otomatis menciptakan lapangan kerja.

 

Dibutuhkan ekosistem perikanan yang kuat, kapal dan alat tangkap yang memadai, pelabuhan, tempat pelelangan ikan, pabrik es, cold storage, industri pengolahan, pembiayaan, teknologi, hingga jaringan pemasaran dan ekspor.

 

Dunia Usaha Mulai Membuka Jalan. Pengusaha perikanan Gorontalo Utara, Moh. Radjak Dunggio, Direktur CV. Cahaya Laut Sejahtera, menyatakan kesiapan dunia usaha untuk ikut mengambil bagian dalam pengembangan sektor perikanan sekaligus meningkatkan PAD daerah.

Menurut Radjak, perusahaan yang dipimpinnya memiliki jaringan pasar untuk memasarkan hasil perikanan Gorontalo Utara, termasuk membuka peluang antarpulau dan ekspor.

“Perusahaan kami punya jaringan pasar yang potensial untuk mengekspor atau mengantarpulaukan hasil perikanan di Gorontalo Utara,” ujarnya.

 

Sejumlah komoditas yang memiliki peluang pasar antara lain kakap, kerapu, tuna, cakalang dan rumput laut.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata “ada ikan atau tidak?”

 

Persoalannya adalah,

Siapa yang menangkap?

Siapa yang mengolah?

Siapa yang membeli?

Ke mana hasilnya dipasarkan?

Berapa nilai tambah yang tinggal di Gorontalo Utara?

Dan berapa besar kontribusinya terhadap PAD serta kesejahteraan nelayan?

Di sinilah pemerintah daerah dan dunia usaha harus duduk dalam satu meja.

 

Pemerintah menyediakan ekosistem dan infrastruktur. Dunia usaha membuka pasar dan investasi. Nelayan serta pembudidaya menjadi pelaku utama produksi.

Aktivis Gorontalo Utara Andi Haju, dijumpai MPN di kantor dinas Kelautan Perikanan mengatakan, “Jika semua terkoordinir dengan maksimal oleh pemerintah, maka Gorontalo Utara tidak hanya menjadi daerah yang memiliki garis pantai terpanjang di Gorontalo, tetapi bisa menjadi pusat produksi, pengolahan dan perdagangan hasil laut terbesar di Provinsi Gorontalo”, tegas Andi Haju. “Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah panjang garis pantainya, tetapi berapa banyak ikan yang diproduksi, berapa banyak tenaga kerja yang terserap, berapa besar investasi masuk, berapa besar PAD bertambah, dan yang paling penting: berapa banyak nelayan dan masyarakat pesisir yang hidup lebih sejahtera”, tambah Andi Haju.

 

316 kilometer garis pantai adalah anugerah. Mengubahnya menjadi kesejahteraan rakyat adalah pekerjaan pemerintah, dunia usaha dan seluruh masyarakat Gorontalo Utara.

-ArifzKZ/MPN Gorontalo-