SuaraGenerasikita.com/Gorontalo 13 September 2026/Ada orang yang hadir dalam politik karena mengejar jabatan. Ada pula yang masuk ke dalamnya karena merasa memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan sebuah perjuangan.
Hj. Indrawaty Gobel, atau yang akrab disapa Kk Tiu, tampaknya berada pada kelompok kedua.
Lahir pada 21 Agustus 1963 sebagai putri keenam pasangan alm. Drs. Thayeb Mohammad Gobel dan almh. Annie Nento, serta adik kandung alm. Dr. Rachmat Gobel, perjalanan hidup Kk Tiu tidak sekadar berbicara tentang keluarga besar Gobel. Ada sebuah warisan nilai yang ikut membentuk perjalanan hidupnya, kerja keras, penguasaan teknologi, kemandirian dan pengabdian.
Sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, bukan sekadar membangun bisnis. Ia memiliki mimpi besar tentang Indonesia yang mampu menguasai teknologi dan membangun industri sendiri.
Dan menariknya, salah satu bagian dari mimpi itu pernah dititipkan kepada putrinya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Bulungan Jakarta pada 1982, Kk Tiu dikirim ke Swiss untuk mempelajari teknologi pembuatan jam tangan. Selama kurang lebih dua tahun, ia menimba ilmu di Neuchâtel, salah satu kawasan yang memiliki tradisi panjang dalam industri jam presisi Swiss.
Ini bukan sekadar kisah seorang anak yang bersekolah ke luar negeri.
Di balik perjalanan itu terdapat sebuah pesan besar dari seorang ayah kepada anaknya, kuasai ilmu dan teknologi, lalu bawa pulang untuk membangun negeri.
Sayangnya, realitas industri tidak selalu berjalan seindah sebuah cita-cita.
Industri jam tangan Indonesia menghadapi persaingan berat dari produk Jepang dan kemudian China yang mampu menawarkan harga lebih murah. Cita-cita membangun industri jam tangan sebagaimana yang dibayangkan sang ayah pun menghadapi jalan yang tidak mudah.
Namun, kegagalan sebuah proyek industri tidak berarti berakhirnya sebuah pengabdian.
Justru dari sinilah perjalanan Kk Tiu menemukan babak lain.
Dari Industri ke Pengabdian
Dalam perjalanan berikutnya, Kk Tiu semakin dekat dengan aktivitas sosial dan politik keluarga Gobel. Sejak 2018, ia aktif mendampingi perjuangan alm. Rachmat Gobel, termasuk dalam berbagai kegiatan politik, kampanye dan konsolidasi di Gorontalo.
Di titik ini, menarik untuk melihat Kk Tiu bukan hanya sebagai “adik RG”.
Sebab berada di balik seseorang yang tampil di panggung politik sering kali terdapat orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan kamera.
Membangun komunikasi, menjaga hubungan dengan masyarakat, hadir dalam konsolidasi, memahami dinamika lapangan dan memastikan sebuah perjuangan tetap berjalan, pekerjaan seperti ini sering tidak masuk dalam berita, tetapi justru menjadi bagian penting dari perjalanan politik sebuah organisasi.
Kk Tiu berada dalam ruang itu.
Ia ikut mendampingi, membangun komunikasi dan mengambil bagian dalam penguatan jaringan sosial-politik yang menyertai perjalanan NasDem di Gorontalo.
Artinya, kehadirannya di Gorontalo bukanlah cerita yang tiba-tiba muncul ketika politik sedang ramai.
Ada proses panjang yang sudah dijalani.
Ada waktu yang telah diberikan.
Ada hubungan dengan masyarakat yang dibangun.
Dan tentu saja, ada pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya melalui teori politik di ruang kelas.
Warisan Gobel Bukan Sekadar Nama Besar
Keluarga Gobel memiliki sejarah panjang dalam dunia industri Indonesia. Tetapi warisan terbesar sebuah keluarga sesungguhnya bukan hanya perusahaan, kekayaan atau nama besar.
Warisan terbesar adalah nilai yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika Thayeb Mohammad Gobel mewariskan semangat membangun industri dan kemandirian bangsa, maka generasi setelahnya memiliki tantangan untuk menerjemahkan nilai tersebut dalam zamannya masing-masing.
Di sinilah perjalanan Kk Tiu menjadi menarik.
Dulu ia belajar teknologi jam di Swiss karena sebuah cita-cita industri.
Hari ini ia berada di ruang sosial-politik, bersentuhan langsung dengan masyarakat dan dinamika pembangunan Gorontalo.
Ruangnya berbeda.
Tetapi benang merahnya tetap sama, mengabdi melalui apa yang bisa dilakukan.
Gorontalo Membutuhkan Lebih dari Sekadar Politisi
Gorontalo hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berpolitik.
Gorontalo membutuhkan orang yang memahami masyarakat, memahami dunia usaha, memahami organisasi, memiliki pengalaman dan mau bekerja.
Politik semestinya tidak berhenti pada perebutan posisi.
Politik harus menjadi jalan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Karena itu, pengalaman Kk Tiu dalam mendampingi perjalanan politik RG dan NasDem di Gorontalo layak dilihat dalam perspektif yang lebih luas.
Bukan semata-mata soal siapa kakaknya.
Bukan pula semata-mata soal berasal dari keluarga besar Gobel.
Tetapi tentang apa yang telah dilakukan, pengalaman apa yang dimiliki, dan kontribusi apa yang bisa diberikan.
Nama besar keluarga memang dapat membuka pintu.
Tetapi yang membuat seseorang bertahan di dalam perjalanan panjang adalah kerja, konsistensi dan kemampuan membangun kepercayaan.
Menjaga Warisan, Bukan Hidup dari Warisan
Ada perbedaan besar antara mewarisi nama dan menjaga warisan.
Mewarisi nama adalah sesuatu yang diberikan oleh keluarga.
Menjaga warisan adalah pilihan hidup.
Kk Tiu telah melewati perjalanan yang cukup panjang: dari pendidikan di Swiss, membawa pulang ilmu dan cita-cita industri, menghadapi kenyataan bahwa tidak semua mimpi dapat diwujudkan seperti yang direncanakan, hingga kemudian masuk dalam perjalanan sosial-politik dan mendampingi perjuangan RG di Gorontalo.
Mungkin tidak semua perjuangan menghasilkan kemenangan.
Tidak semua cita-cita langsung menjadi kenyataan.
Tetapi satu hal penting dari perjalanan itu: semangat untuk terus berkarya tidak boleh berhenti hanya karena satu pintu tertutup.
Dan mungkin itulah makna paling sederhana dari perjalanan Hj. Indrawaty Gobel.
Ia tidak sekadar membawa nama besar keluarga Gobel.
Ia membawa sebuah amanah tentang bagaimana sebuah keluarga yang dibangun dari kerja keras, industri dan pengabdian harus terus memberi arti bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Gorontalo tidak membutuhkan sekadar nama besar.
Gorontalo membutuhkan orang-orang yang bersedia turun tangan.
Dan dari perjalanan panjang Kk Tiu, publik Gorontalo setidaknya dapat melihat satu hal: sebelum sebuah nama berdiri di panggung, ada proses panjang yang sering kali berlangsung jauh dari sorotan.
Warisan bukan untuk dibanggakan. Warisan adalah tanggung jawab untuk diteruskan.
“Kk Tiu, bukan sekadar adik RG, tetapi perempuan di balik perjalanan politik Gobel di Gorontalo.”
)Joice Tahir, Wakil BeNdahara DPW Partai Nasdem Gorontalo)
-KZ-





